(5 Januari 2020)
Romo Antonius Adrian Adiredjo, OP
[Bacaan Injil : Matius 2 : 1 - 12
(Hari Raya Penamkana Tuhan)]
Dalam bacaan injil diceritakan ada dua orang raja yaitu, Raja Herodes dan raja-raja dari timur. Mereka memiliki sifat yang kontras, Raja Herodes yang gelisah akan kelahiran Yesus sebaliknya raja-raja dari timur yang sangan penuh sukacita menyambut kelahiran Yesus. Ketika raja-raja dari timur datang, Herodes menyuruh mereka untuk memberitahu dimana bayi Yesus akan lahir. Herodes tampak bijaksana didepan rakyatnya, seakan-akan ia antusias akan kelahiran bayi Yesus. Ini sebagai topeng akan kebusukan hatinya demi mempertahankan jabatanya sebagai raja. Rakyat tidak akan mengetahui akal busuk dari Herodes yang ingin membunuh bayi Yesus, tetapi Allah mengetahui semuanya karena apa yang tidak kelihatan oleh manusia akan kelihatan oleh Allah. Dalam hidup kita bisa membohongi sesama, tetapi tidak bisa membohongi Allah dan itulah yang terjadi pada Herodes. Sebagai raja, Herodes bisa melakukan apa saja karena dia memiliki kekayaan dan akses dimana-mana, tetapi yang tidak dimiliki oleh Herodes adalah ketenangan hati. Hal ini dipengaruhi oleh kekuasaan karena Herodes takut kelahiran bayi Yesus akan menggantikan posisinya sebagai raja. Ketika seseorang dalam posisi seperti ini pasti akan merasakan ketakutan dan khawatir apa yang dikatakan oleh orang lain. Berbanding terbalik dengan raja-raja dari timur yang memiliki sifat bijaksana sebagai raja. Maka, hal yang perlu dilakukan adalah dengan meneladani Yesus sebagai logos dan agape, dengan memiliki kebijaksanaan dan kasih dalam kerangka membangun diri. Orang bijak akan senantiasa dicari oleh orang lain karena sifat kebijaksananya khususnya dalam memimpin. Orang seperti ini akan memiliki sifat rendah hati karena dia tidak akan merasa iri hati ketika ada orang lain lebih bijaksan daripada dia. Melainkan, ia akan bersukacita karena ia bisa belajar dari orang yang lebih bijaksana tersebut. Inilah yang dilakukan oleh raja-raja dari timur, mereka menyambut dengan sukacita kelahiran Yesus sebagai raja baru. Inilah yang harus menjadi contoh, bagaimana kita mensyukuri apa yang sudah ada dan apa yang kita miliki. Jangan sampai seperti Herodes karena ia tidak mensyukuri apa yang ia punya sehingga ia merasa ketakutan. Marilah kita mengubah cara pandang hidup dengan tidak lagi melihat sesama sebagai sebagai hal yang ditakutkan, melainkan sebagai tempat bagaimana kita dapat lebih berkembang.