Season 12, Episode 6.
Ngaji Filsafat - Dr. Fahruddin Faiz
Ibnu Thufail (sekitar 1105–1185) nama lengkap; Abu Bakr Muhammad bin 'Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail al-Qaisi al-Andalusi أبو بكر محمد بن عبد الملك بن محمد بن طفيل القيسي الأندلسي (nama Latin Abubacer) ialah filsuf, dokter, dan pejabat pengadilan Arab Muslim dari Al-Andalus.
Lahir di Guadix dekat Granada sekitar tahun 1105, ia dididik oleh Ibnu Bajjah (Avempace). Ia menjabat sekretaris untuk penguasa Granada, dan kemudian sebagai wazir dan dokter untuk Abu Ya'qub Yusuf, penguasa Spanyol Islam (Al-Andalus) di bawah pemerintahan Muwahhidun, pada yang mana ia menganjurkan Ibnu Rusyd sebagai penggantinya sendiri saat ia beristirahat pada 1182. Ia meninggal di Maroko.
Di zamannya nama baiknya sebagai pemikir & pelajar telah membuatnya dipuji sebagai Maecenas. Ibnu Thufail juga merupakan pengarang Hayy bin Yaqthan (Hidup, Putra Kesadaran) roman filsafat, dan kisah alegori lelaki yang hidup sendiri di sebuah pulau dan dan yang tanpa hubungan dengan manusia lainnya menemukan kebenaran dengan pemikiran yang masuk akal, dan kemudian keterkejutannya pada kontak dengan masyarakat manusia untuk dogmatisme, dan penyakit lainnya.
Karya
Karya yang dihasilkan oleh Ibnu Thufail diketahui tak banyak jumlahnya, namun karangannya Hayy bin Yaqzan (Hidup, Putra Kesadaran), sebuah novel filsafat terkenal, merupakan salah satu diantara buku-buku yang paling cemerlang pada abad-abad pertengahan. Dalam buku tersebut, Ibnu Thufail berusaha membuktikan kebenaran tesis kesatuan kebijaksanaan rasional dan mistis melalui kisah fiktif.
Melalui kisah tersebut, Ibnu Thufail ingin memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditimbulkan oleh pertentangan antara filsafat dan agama, akal dan iman, seperti halnya Hayy, yang dalam novel tersebut digambarkan akhirnya menyadari bahwa kebenaran itu memiliki dua wajah, yakni internal dan eksternal. Ia menegaskan bahwa dalam mencapai kebenaran, media yang digunakan ada banyak dan beragam.
Hayy bin Yaqzan sendiri merupakan roman filsafat, dan kisah alegori lelaki yang hidup sendiri di sebuah pulau dan yang tanpa hubungan dengan manusia lainnya menemukan kebenaran dengan pemikiran yang masuk akal, dan kemudian keterkejutannya pada kontak dengan masyarakat manusia untuk dogmatisme, dan penyakit lainnya.
Referensi