Ngaji Filsafat - Dr. Fahruddin Faiz
DIOGENES
Diogenes dari Sinope adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Sinis. Mazhab Sinis adalah salah satu mazhab yang berakar pada ajaran Sokrates. Karena itu, Diogenes dari Sinope berpendapat, seperti Sokrates, bahwa manusia haruslah memiliki keutamaan tentang yang baik. Akan tetapi, Diogenes berpendapat bahwa keutamaan tentang yang baik adalah ketika manusia memiliki rasa puas diri dan mengabaikan segala kesenangan duniawi.
Diogenes dari Sinope dikenal dengan sebutan "si anjing" (dalam bahasa Yunani kunikos yang berarti anjing). Hal itu dikarenakan ia sangat berani dalam menyatakan pandangannya layaknya seekor anjing yang menyalak. Karena sikapnya yang menyimpang dari gaya santun Sokrates itu, Plato memberinya julukan sebagai "Sokrates yang Pemarah".
Filsuf ini tidak meninggalkan satu karya pun. Sumber utama tentang dirinya adalah buku "Hidup dan Pandangan Filsuf-Filsuf Ternama" yang dikarang oleh Diogenes Laertius.
Riwayat Hidup
Diogenes berasal dari kota Sinope. Ia hidup pada abad ke-4 SM, yaitu sekitar tahun 412-323 SM. Setelah diusir dari kota asalnya, Diogenes pindah dan menetap di Athena. Ia diusir dari kota kelahirannya karena ia, atau ayahnya, telah menghancurkan nilai mata uang di sana. Setelah itu, diketahui juga bahwa ia menetap di Korintus dan akhirnya meninggal disana.
Ia dipengaruhi oleh pemikiran Antithenes, pendiri Mazhab Sinis. Akan tetapi, ia tidak menyetujui perilaku Antithenes yang dipandangnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkannya. Diogenes menyebut Antithenes sebagai, "Terompet yang berbunyi bagi dirinya sendiri". Karena itu, Diogenes memilih untuk hidup sederhana untuk menunjukkan konsistensinya dengan apa yang diajarkannya. Untuk itu, ia tinggal di dalam sebuah tong. Selain itu, ia mencari makan dari sisa-sisa makanan yang ia temukan.
Menurut tradisi, Diogenes dari Sinope pernah dikunjungi oleh Alexander Agung. Ketika itu Diogenes sedang berjemur. Alexander Agung bertanya kepadanya, "Apa sebenarnya yang engkau kehendaki?" Kemudian Diogenes menjawab, "Pergilah, jangan menghalangi cahaya matahari menyinariku!" Hal itu menunjukkan betapa Diogenes sangat konsisten terhadap pandangan hidupnya tentang kesederhanaan dan penolakan terhadap segala bentuk kuasa dan kesenangan.
PEMIKIRAN
Tentang Keadaan Manusia yang Alamiah
Menurut Diogenes, situasi masyarakat pada masanya telah rusak. Dengan segala adat istiadat dan kebudayaan yang dihasilkannya, manusia tidak lagi menjadi alamiah dan jatuh pada sikap mencari enaknya sendiri. Untuk mengkritik situasi tersebut, Diogenes mengabaikan segala adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakatnya. Dikisahkan pula bahwa Diogenes pernah membawa pelita yang menyala di tengah-tengah pasar pada siang hari untuk mencari adakah manusia yang jujur. Hal itu dilakukannya untuk memberi kritik terhadap masyarakat yang tidak lagi hidup secara alamiah. Dengan demikian, apa yang dimaksudkannya dengan keadaan manusia yang alamiah adalah bagaimana manusia hidup dengan standar minimal untuk hidup, dan tanpa masyarakat.
Tentang Pengendalian Diri
Diogenes juga mengajarkan tentang pengendalian diri terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan, nafsu, dan kemewahan haruslah dijauhi oleh manusia sebab hal-hal itulah yang membuat manusia dan masyarakat menjadi rusak. Menurutnya, rasa lapar dan rasa sakit berguna untuk melatih moral manusia. Bila manusia dapat mengendalikan diri terhadap segala kesenangan duniawi, barulah manusia dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin.