Listen

Description

Enam tahun yang lalu, doa membawaku ke Jakarta

Kisah ini berawal dari pinggiran Jakarta hingga ke pusat Ibu Kota

Di sana, tertulis kisah dua manusia yang terpaut dalam takdir yang berliku jua

Sambil mengantungi bekal kisah romansa dari masing-masing asalnya

Mereka akhirnya berjumpa melalui benturan semesta

Itulah Kita,

Sebuah kisah yang berakhir di Selatan Jakarta

Enam tahun berlalu, doa kini membawa dua anak manusia

Yang menjadikannya Aku dan Kau menjadi Kita

Untuk sekadar belajar makna sebuah cinta

Terkadang belajar Cinta, bisa dengan tenggelam dalam sajak-sajak Sapardi rupanya

Seperti, aku mungkin tak akan setabah hujan bulan Juni, yang ia rahasiakannya rintik rindu kepada pohon berbuah itu

Tak pula sebijak hujan bulan Juni, yang ia hapus jejak-jejak kakinya yang ragu di jalan itu

Ingin rasanya ku bayar tuntas rindu dan jejak yang mengantarkan kita ke jalan suci di bulan Juni itu

Aku pun tak ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti yang dikatakan Sapardi dalam sajaknya

Mencintai dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan utuh, penuh dan sangat. Yang menjadikan kita lebih dari ada dan berada

Ketika firman Tuhan masuk dalam panggung pagelaran kita, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kemudian, Jin dengan khusyu menjawab, “Tiada sesuatu pun dari nikmat-nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan”

Begitu pula aku, yang tahu bahwa kau bagian dari nikmat Tuhan yang tak dapatku dustakan

Cibinong, 06 Juni 2021

https://myhumaneror.wordpress.com/