Pada masa lampau warga gereja memaknai bahwa pendeta pastilah orang yang serba bisa: bisa mendatangkan kesembuhan bagi orang sakit melalui doa-doanya, bisa bernyanyi, bisa bermain musik, bisa mengajar anak sekolah minggu, bisa masak, bisa mengurus rumah tangga, mengetahui solusi setiap persoalan mereka. Pemahaman ini membuat sosok pendeta seperti orang sakti yang serba bisa. Padahal kenyataannya, tidak ada pendeta super yang serba bisa! Demikian pun tidak ada pemimpin yang serba bisa. Seorang pemimpin yang baik menyadari apa yang bisa ia kerjakan dan juga keterbatasan dirinya, maka ia akan berupaya mencari orang-orang yang dapat bekerja bersamanya dalam tim.