Kencan Dengan Tuhan - Senin, 20 Maret 2023
Bacaan:
"Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara." (Mazmur 9:19)
Renungan:
Carol Lovell bekerja sebagai kepala pembukuan di salah satu restoran. Pagi tanggal 4 September 1981, ia pergi ke kantornya. Carol membuka pintu kantornya dan setelah masuk, ia mendengar seseorang mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka, tiba-tiba pria yang baru saja diterima sebagai satpam di kantornya itu langsung mendorong Carol ke dinding dan berkata, "Cepat buka lemari besi itu, atau aku akan membunuhmu!" Karena takut, maka Carol segera membuka lemari besi dan menyerahkan semua uang yang ada di dalamnya. Pria itu memerintahkan Carol untuk memasukkan semua uang ke dalam tas yang telah disediakannya. Kemudian ia menarik Carol ke ruang istirahat, dan memperkosanya. Setelah itu, ia menembakkan dua peluru tepat di kepala Carol. Darah segar mengalir dari kepala Carol, tetapi Carol masih dapat bertahan dan berdoa, "Tuhan bantulah saya. Saya takut, berilah saya kekuatan." Setelah berdoa Carol bangkit berdiri dan berkata pada dirinya, "Saya ingin hidup. Saya tidak mau mati!" Dengan susah payah Carol berjalan untuk meraih telepon dan ternyata telepon itu tidak dapat menghubungkannya ke luar. Menyadari akan hal itu, maka Carol tertatih-tatih pergi ke ruangannya sambil berteriak memanggil seseorang yang dapat menolongnya. Carol sempat memerintahkan seorang pelayan restoran untuk memanggil ambulans. Ketika Carol sampai ke ruangannya, ternyata pria itu masih ada di sana. Kemudian pria itu kembali menembak kepala Carol sebanyak tiga kali lagi. Seketika Carol rebah, tetapi ia masih tetap sadar. Sebelum tak sadarkan diri, Carol masih sempat memberitahukan kepada perawat ciri-ciri pria yang menyerangnya. Tim dokter berusaha mengeluarkan lima butir peluru dari kepala Carol. Linda, saudara Carol, begitu setia menjaga dan membisikkan kalimat-kalimat positif untuk membangkitkan harapan di hati Carol. "Carol, kau akan segera pulih, kau pasti berhasil melalui masa kritis. Jangan biarkan terjadi pembengkakan di otakmu dan jangan biarkan tubuhmu terus berdarah." Tim dokter heran karena tidak terjadi pembengkakan pada otak Carol.
Berminggu-minggu lamanya, Carol dirawat di Unit Gawat Darurat dan Linda terus membisikkan kata-kata pengharapan kepadanya. Selama enam bulan Carol menjalani berbagai operasi dan perawatan, akhirnya ia dapat berjalan kembali, walaupun salah satu lengannya kehilangan fungsinya. Carol mengungkapkan rahasia kekuatan hidupnya dengan kalimat, "Hanya doa dan pikiran positif yang membangkitkan harapan saya, sehingga saya tetap hidup."
Pengharapan akan membuat kita tetap bertahan dan terus bertekun dalam doa. Pengharapan menjauhkan kita dari pandangan yang pesimis dan sikap pengecut yang selalu lari dari kenyataan hidup. Karena besarnya kekuatan sebuah pengharapan, maka Kongres Psikiatri di Madrid, Spanyol menghasilkan kesimpulan, "Kekuatan tunggal penyembuhan yang paling penting adalah harapan. Harapan untuk sembuh, harapan untuk mengasihi dan dikasihi, dan harapan untuk berhasil." Tuhan Yesus memberkati.
Doa:
Bapa, kesaksian yang kubaca hari ini menyadarkanku betapa bahagianya aku yang memiliki harapan yang pasti di dalam Yesus. Aku bersyukur pada-Mu di dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (Dod).