Bila kita membaca kitab Ayub pasal 29, kita akan mendapat gambaran dari Ayub, bagaimana kondisinya saat masih dalam perlindungan Allah. Dari masa remajanya, Ayub telah bergaul dengan Allah. Dimana Yang Mahakuasa masih bersama dia, Ayub sangat dihormati. Dia didengarkan banyak orang. Orang menyebutnya yang berbahagia. Mereka memuji dan memberkatinya, karena dia menolong orang sengsara yang meminta tolong. Menolong anak piatu dan janda! Kepadanya orang banyak meminta nasehat dan orang menantikan dia seperti menantikan hujan. Dia menentukan jalan mereka. Dia pemimpin mereka. Dia bagikan raja ditengah rakyatnya. Ayub sangat dimuliakan oleh orang-orang disekitarnya. Seperti Ayub, begitu juga sebaiknya dengan hidup kita. Setiap hari kita membaca Firman Tuhan dan merenungkannya. Setiap hari kita bergaul erat dengan Tuhan melalui doa-doa kita. Kita mengundang Roh Kudus kedalam hati kita untuk membuka pemahaman kita akan Firman Tuhan. Iman kita bertumbuh dan terpelihara dengan baik. Berbagai cobaan hidup dapat kita lewati dan tidak melemahkan pertumbuhan iman kita. Kita menjadi kesukaan bagi orang-orang disekitar kita. Mereka mengharapkan nasehat dari kita akan permasalahan yang mereka hadapi. Kita menguatkan mereka dan menjadi perpanjang tangan Allah untuk hidup mereka. Mereka mengenal Wajah Tuhan melalui hidup kita.