Seperti apakah hujan bagi Latiff, selain bunyi "tin-tin kosong berguling guling gu ling" (Wayang Pak Dalang, 1977) yang ditulis kemudiannya? Lebih awal, dalam kumpuisi Sungai Mekong (1972), Latiff memisalkan hujan kepada lagu – mengalir satu-satu di muka kaca pintu. Antara kelantangan ini ada jua keheningan, kaku seekor kupu-kupu antara batu-batu. Dan Latiff soal kita, ketika nada lagu makin lantang, kenapa kita tak berdansa? Memahami gusar dan soal-soal yang Pak Latiff timbulkan, Fajar memilih untuk memandang "Hujan" sebagai sebuah percakapan dengan diri sendiri yang sunyi, ketika melihat ia mengalir di kaca tingkap.