Duka selalu buatkan kita menjadi penakut, tergaru-garu mencari cara untuk bersenandung, melepaskan diri–dari dunia, segalanya. Bacaan puisi Anwar Ridhwan oleh saudara Lee Hao Jie menyenandungkan, betapa duka sering mengkabutkan dan akhirnya, kita terpinga-pinga untuk terus keliru ragu-ragu antara dua kemungkinan.