Setelah melewati bulan yang buruk dan penuh kemalangan, kita selalu berharap bisa melewati sebuah bulan baru dengan baik. Hal ini sudah dimulai ketika kita hendak menyambut bulan baru tersebut. Tak terkecuali dengan bagaimana kita menyelipkan doa untuk bulan Oktober, kita berharap bulan Oktober menjadi bulan yang penuh dengan suka-cita, kemudahan, kesehatan, kebaikan, dan lain-lain. Meski begitu, bulan Oktober di tahun ini agaknya berbeda. Belum genap 24 jam, rasa-rasanya bulan ini akan jauh dari semua kesan di atas.
Dalam pertandingan Liga 1 antara Arema melawan Persebaya, di Stadion Kanjuruhan, hal yang sangat ditakutkan dalam dunia sepak bola terjadi; kematian masal. Pasca menelan kekalahan 2-3 dari sang tamu, kerusuhan terjadi. Penonton masuk ke dalam lapangan, hendak menyampaikan kritikannya, sebagian versi yang lain menyebutkan, penonton ingin dekat dan menenangkan pemainnya. Dalam kejadian ini, aparat keamanan yang bertugas justru membalas dengan pukulan bagi penonton yang masuk, serta tembakan gas air mata yang bertubi-tubi ke tribun penonton. Sontak tribun diisi oleh orang-orang yang panik; kepanasan, perih, sesak, dan terinjak-injak dalam gelap. Terakhir, 130 orang dinyatakan tewas.
Kanjuruhan Riot, lebih buruk dari tragedy sepak bola dunia macam, Tragedi Hillsborough (96 Tewas), Tragedi Ibrox (66 Tewas), dan Tragedi Heysel (39 Tewas). Kini semua menanti siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, dan apakah ada orang yang cukup besar hatinya untuk mengakui, meminta maaf, dan mengundurkan diri dari jabatan yang berkaitan dengan tragedi ini? Malang, Indonesia, kita semua, menuntut keadilan.