Listen

Description

Gembala Menyapa

28 September 2022

BERGANTUNG SEPENUHNYA KEPADA TUHAN

Yakobus 4:8-17

Sukses dalam studi, sukses dalam karier, sukses secara ekonomi, sembuh dari sakit, atau bisa melalui kesulitan-kesulitan hidup, sering membuat manusia bermegah atas kemampuan dirinya sendiri. Memang, selalu ada kata “Puji Tuhan” saat bercerita kepada orang lain, atau saat bersaksi tentang apa yang berhasil diraih, tetapi tidak jarang yang cenderung ditonjolkan adalah kemampuan diri sendiri. Hampir tidak terdengar adanya bantuan orang lain, bahkan tak terdengar bahwa semua yang diraih tidaklah lepas dari pertolongan Tuhan.

Demikian halnya dalam perencanaan hidup atau merencanakan sesuatu. Tak sedikit orang Kristen yang enggan menyebut, “Jika Tuhan mengendaki...”. Padahal, apakah orang yang berkata demikian berarti rendah diri, pesimis, ragu-ragu, atau khawatir? Dalam melakukan segala sesuatu, kita memang harus yakin. Tetapi, keyakinan itu tidak boleh kita letakkan pada diri sendiri. Kita harus tetap meletakkan keyakinan kita pada Tuhan, meskipun kita yakin dengan apa yang kita rencanakan.

Pedagang yang disebutkan dalam bacaan kita ini mengingatkan kita semua: Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah (ayat 13-16).

Tetaplah mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana hidup kita, dengan satu keyakinan yang teguh, bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu melalui Dia yang menguatkan kita. Allah mendorong kita untuk bermegah di dalam kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Allah.