Listen

Description

Gembala Menyapa

14 Maret 2023

(BERLATIH) MEMUJI TUHAN

Mazmur 150:1-6

Pujian biasanya diberikan karena sesuatu yang dimiliki orang lain, entah karena keberhasilan, tampilan fisik atau karena kualitas pribadi yang dimilikinya. Kita merasa takjub, memberikan apresiasi atau ingin melihat pengulangan kemunculannya. Misalnya ketika si bungsu menolong kakaknya, sang ibu memujinya supaya si bungsu terus melakukannya. Pujian juga menyatakan terima kasih sebab sudah menerima akibat dari kualitas yang dimiliki orang tersebut. Contohnya ketika seorang pengemudi taksi mengembalikan dompet penumpangnya yang tertinggal. Jadi pujian seringkali menjadi sebuah akibat dan sifatnya bukan proaktif. Inilah yang menurut saya juga menjadi pola dalam memuji Tuhan. Kita memuji Tuhan setelah menerima akibat dari kualitas Tuhan: berkat. Celakanya lagi berkat itupun diukur berdasar kriteria yang kita miliki. Sungguh sukar memuji Tuhan ketika hidup yang kita jalani penuh pergumulan, bukan?

Daud punya pemikiran lain tentang ini. Ia mengatakan: Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. (Mz. 34: 2). Bagi Daud memuji Tuhan tidak harus ada alasan terlebih dahulu, kapan pun ia bisa memuji Tuhan. Tidak ada batasan waktu, batasan tempat ataupun batasan situasi. Apakah yang harus dibatasi jika kita lakukan untuk Tuhan? Sayangnya kita membatasi memuji Tuhan karena kita pikir Tuhan berhutang berkat kepada kita. Pujian kita terkait dengan apa yang kita terima dari Tuhan.

Suatu hari kelak, kita akan melihat Tuhan muka dengan muka. Saat itu kita tidak akan mengingat apapun kekesalan kita kepada Tuhan. Kita tidak akan mampu mengatakan apapun kecuali “Kudus, kuduslah, Engkau Tuhan” Hingga saat itu tiba, kita memiliki waktu di dunia ini untuk berlatih memuji-Nya. Kita menghadapi deadline. Bukankah kita akan memaksimalkan seluruh usaha karena waktu yang terbatas itu?

Mazmur di atas mengatakan bahwa yang hidup memuliakan Tuhan. Jadi selama kita masih bernapas, pujilah Tuhan, apapun kondisi kita. Sebagai ciptaan, kita wajib memuji Sang Pencipta. Sampai waktunya tiba bagi kita memuji-Nya langsung di surga dengan suara lantang yang sudah kita latih di dunia.