Gembala Menyapa
19 Agustus 2022
DILEMA
Kejadian 43:1-15
Yakub yang dalam bacaan hari ini disebut Israel, sedang merasa galau. Di satu sisi keadaan keluarganya sedang di ambang kematian, karena keluarga dan dirinya sedang menghadapi bencana kelaparan. Di sisi lain ada peluang untuk bisa selamat dari kondisi ini dengan kembali ke Mesir yang masih memiliki sumber makanan seperti yang pernah anak-anaknya lakukan. Hanya ada satu masalah, dia harus merelakan anak bungsunya untuk ikut, yaitu Benyamin dan hal itu sungguh menjadi beban.
Masalahnya adalah penguasa Mesir, orang kepercayaan Firaun sendiri yang meminta demikian. Karena Israel dan keluarganya merasa tidak mengenal si penguasa, timbullah ketakutan dan kekuatiran: “Bagaimana jika anak ini ditahan, dipenjara, atau bahkan dibunuh? Padahal dia yang tersisa dari perempuan yang paling aku cintai”, kira-kira demikian yang terlintas dalam benak Israel. Melepaskan Benyamin berarti sebuah pertaruhan besar bagi hati Israel. Namun dia juga perlu tetap memikirkan anggota keluarganya yang lain. Maka dia mengambil keputusan untuk menyerahkan kepada Tuhan dan menaruh keparcayaan kepada anak-anaknya yang lain dengan melepaskan anaknya yang terkasih. Dengan demikian, terpeliharalah kehidupan mereka semua dan menjadi sarana pemeliharaan Tuhan dalam perjalanan terbentuknya bangsa pilihan-Nya, yaitu bangsa Israel.
Hidup ini perlu diperjuangkan, di tengah segala tantangan dan pergumulan, baik dalam hidup pribadi, keluarga, maupun berbangsa dan bernegara. Seperti halnya yang dialami Israel, dalam pilihan sulit, keberaniaan dan kepercayaan terhadap sesama, dalam hal ini keluarganya, mendatangkan kehidupan. Demikian halnya dalam hidup keseharian kita, ketika kita menghadapi kesulitan, pergumulan, bencana atau pandemi seperti saat ini, tidak mungkin kita selamat dengan upaya kita seorang diri, perlu ada kepercayaan dan kerjasama dengan sesama. Karena hanya dengan bersama kita dapat melalui segala kesulitan.