GEMBALA MENYAPA
Minggu, 27 November 2022
KASIH ITU BERARTI SEHATI SEPIKIR
Bacaan: Roma 12:16a
“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama”
Jemaat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan.
Yang dimaksud dengan sehati sepikir yaitu sikap satu hati dan satu pikiran di antara orang yang satu dengan yang lain berkenaaan dengan masalah-masalah dan hal-hal yang dihadapi. Ada perasaan hati yang sama (kesehatian) dan ada pikiran yang sama (kesepikiran) di antara orang yang satu dengan yang lain atas masalah-masalah-masalah yang dihadapi bersama, baik itu masalah yang kecil atau ringan maupun masalah yang besar atau berat.
Dalam rangka menasehati jemaat Roma tentang bagaimana orang percaya harus hidup di dalam kasih ( Roma 12: 9-21) dalam salah satu ayatnya yaitu dalam Roma 12: 16a rasul Paulus mengingatkan: “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama”.
Kalau rasul Paulus menasehatkan bahwa sehati sepikir tersebut harus dilakukan “dalam hidupmu bersama”, hal itu dapat diartikan dalam hidup bersama dalam lingkup kecil, seperti antara lain dalam kehidupan keluarga dan jemaat atau persekutuan orang percaya. Namun demikian “dalam hidupmu bersama” juga dapat diartikan sebagai hidup bersama dalam lingkup yang luas dan besar, seperti misalnya dalam kehidupan bermasyarakat, ber-bangsa dan bernegara, sekalipun ada berbeda satu dengan yang lain baik berkenaan dengan agama, status sosial, kepandaian, pendidikan, harta keka-yaan dan sebagainya,
Apabila “sehati sepikir dalam hidup bersama” yang dinasihatkan rasul Paulus tersebut kita kaitkan dengan ayat 16 seluruhnya, maka sehati sepikir dalam hidup bersama itu akan terjadi apabila orang yang satu dan yang lain mau bersikap:
1, Rendah hati.
Hal itu jelas dari ayat 16b : “Janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang seder-hana”.
Tanpa kerendahan hati, kalau yang ada dalam diri seseorang itu sikap memikirkan perkara-perkara yang tinggi, atau dengan kata lain orang itu mempunyai sikap sombong, congkak, tidak menghargai serta menganggap rendah sesamanya, jangan harap sehati sepikir itu dapat terwujud.
2. Jangan merasa diri pandai
Dalam ayat 16c disebutkan: “Janganlah menganggap dirimu pandai”,
Tuhan tidak melarang orang mempunyai kepandaian. Bahkan kepandaian itu harus diusahakan, diterima/dikelola/digunakan dengan sebaik-baiknya dan juga harus disyukuri.
Tetapi merasa diri pandai dan dengan demikian menganggap orang lain tidak pandai, tidak tahu apa-apa harus dibuang jauh-jauh dari diri kita. . Kita harus ingat kata pepatah :”Di atas langit masih ada langit” yang juga dapat diartikan bahwa di atas kepandaian kita dan juga hal-hal lain yang kita miliki, pasti masih ada yang melebihinya.
Di samping hal-hal di atas, apabila yang ada itu sikap tidak sehati sepikir maka percekcokan, peselisihan, ketidak rukunan dan permusuhan yang akan terjadi dan dengan demikian berarti kita menjauhkan diri dan hidup kita dari nilai-nilai kasih yang benar.
“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama”.
Tuhan beserta dan memberkati kita sejemaat.
[PR]