Listen

Description

GEMBALA MENYAPA

Minggu, 11 September 2022

KASIH ITU BERISI KEJUJURAN, BUKAN KEPURA-PURAAN

Bacaan: Roma 12: 9a

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”

Jemaat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, Syalom.

Ada peribahasa dalam bahasa Inggris “Honesty is the best policy” yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan: “Jujur/Kejujuran adalah hal yang

paling bijaksana”.

Peribahasa tersebut mengajarkan agar manusia bersikap dan berlaku jujur dalam kehidupannya. Tentu saja kejujuran tersebut harus dilakukan dalam hal apapun, kepada siapapun, kapanpun, di manapun. Disebutkan bahwa kejujuran tersebut nerupakan hal yang paling bijaksana, paling baik, paling jos, paling oye. Karena dengan kejujuran orang dapat menuai dan memetik buah kebahagiaan, kegembiraan, tidak merugikan bagi dirinya sendiri dan sesama, bahkan tidak merugikan bagi kemuliaan nama Tuhan. 

Bahwa kita manusia harus jujur, juga diajarkan dalam Kitab Suci. Dalam Roma 12: 9a melalui rasul Paulus, sabda Tuhan: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”. Jangan pura-pura maksudnya yaitu jangan munafik, tidak apa adanya, tidak berkata yang benar, dan itu sama saja dengan tidak jujur. Sebagai umat milik Tuhan jemaat Roma, termasuk kita jemaat saat ini, diingatkan agar hidup di dalam kasih dan bahwa hidup dalam kasih itu harus tidak ada kepura-puraan, kemunafikan, yang harus ada yaitu kejujuran. 

Sebagai contoh, ada pemuda berkunjung pakdhe budhenya. Ketika ditanya “Sudah makan siang belum, kalau belum biar dimasakkan? Ini tadi pakdhe budhe baru selesai makan!”. Kalau pemuda tadi menjawab; “sudah”, padahal sebetulnya belum, jawaban tersebut pura-pura, munafik, tidak jujur. Dan kalau sore harinya baru makan dan telat makan, pemuda tadi kemudian sakit masuk angin misalnya, dapat dikatakan bahwa pemuda itu tidak kasih kepada dirinya sendiri, pakdhe budenya dan juga tidak mengasihi Tuhan. Tidak mengasihi dirinya sendiri karena dengan sakit, sekalipun hanya masuk angin itu berarti tidak menjaga kesehatan dengan baik dan itu menyiksa diri. Tidak mengasihi pakdhe budhenya karena dengan sakitnya itu pasti merepotkan dan bisa jadi pakdhe budhenya tercemar namanya. Tidak mengasihi Tuhan karena pemuda tersebut tidak menaati perintah Tuhan untuk memelihara badan dan dirinya dengan baik. Kalau kemudian berita yang tersebar di tetangga-tetangga: “Pakdhe budhe di sebelah itu, prunannya datang dan sakit masuk angin karena telat dikasih makan. Orang Kristen kok demikian ya?”  Berita yang demikian pasti membuat pakdhe budhenya tercoreng, juga menjadikan nama dan kemuliaan Tuhan tercoreng. Padahal semuanya itu diawali dan bersumber dari ketidak jujuran pemuda tersebut kepada pakde budhenya. Astaga banget,kan!

Banyak contoh yang dapat dikemukakan bahwa di dalam kasih harus ada kejujuran, bukan kepura-puraan dan kemunafikan. 

Kasih yang di dalamnya ada kejujuran tersebut yang dikehendaki Tuhan karena akan membuahkan kebahagiaan, kegembiraan, tidak merugikan diri sendiri dan juga bahkan tidak merugikan dan mencoreng kemuliaan Nama Tuhan. 

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”

Tuhan memberkati kita sejemaat. Amin

[PR]