Listen

Description

GEMBALA MENYAPA

Minggu, 11 Desember 2022

KASIH ITU BERISI PERDAMAIAN

Bacaan: Roma 12:18 

“Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”

Damai sering diartikan sebagai keaadaan atau suasana aman. tenteram, tenang. tidak ada perang, tidak ada permusuhan dan kerusuhan dalam kehi-dupan manusia dan dunia pada umumnya. 

Dalam Roma 12: 9-18 ada beberapa nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Roma agar berdasarkan kasih jemaat Roma hidup dalam perdamaian, baik di dalam kehidupan jemaat secara internal maupun dalam kehidupan jemaat dalam hubungannya dengan semua orang yang bukan warga jemaat atau secara external,

Kalau dalam Roma 12 tersebut dinasihatkan: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk” (ayat 14), “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang  (ayat 17), “Saudara saudara yang kekasih, janganlah kamu sendiri me-nuntut pembalasan, tetapi berilah pada murka Allah, sebab ada tertulis:  Pem-balasan itu adalah hakKu, Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan ( ayat 19), semua itu intisarinya yaitu agar perdamaian dalam arti seperti tersebut di atas  benar-benar diusahakan sehingga menjadi warna kehi-dupan jemaat Roma. 

Jemaat Roma yang karena dosa putus hubungan, tanpa kerukunan dan kehilangan perdamaian dengan Tuhan Allah, kemudian memperoleh perda-maian, dirukunkan kembali dengan Tuhan Allah karena kasihNya melalui karya Tuhan Yesus Juru Selamat, seperti nyanyian pujian malaekat dalam Lukas 2: 14: “Kemuliaan  bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”.

Jemaat Roma yang terlebih dulu telah memperoleh perdamaian dengan Tuhan karena kasihNya tersebut diperintahkan agar mereka dengan kasih harus juga berusaha hidup dalam perdamaian.

Dalam Roma 12: 18 disebutkan:“Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”. Kata “sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu” bukan berarti bahwa perdamaian itu boleh dilakukan kalau dapat saja, kalau mau saja. Tetapi rasul Paulus menegaskan kepada jemaat Roma bahwa mereka itu sendirilah yang menjadi penentu untuk melakukan perdamaian dengan sesama. Mau melakukan perdamaian atau tidak penentunya adalah jemaat Roma itu sendiri.

Selanjutnya dalam ayat tersebut disebutkan dan ditekankan “hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”, hal itu tidak hanya dalam arti dilakukan di antara sesama warga jemaat dan di antara waga jemaat Roma dengan mereka yang bukan warga jemaat seperti telah disebutkan di atas, tetapi dengan semua orang dalam arti yang lebih luas tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Perdamaian itu hendaknya dilakukan untuk semua orang, yang kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, berpendidikan atau tidak, berstatus sosial yang tinggi atau tidak, asal usulnya, suku dan kebangsannya, bahasa dan budayanya dan lain sebagainya.

Hari ini, Minggu 11 Desember adalah hari Minggu Advent III dan 25 Desember 2022 mendatang kita bersama-sama memperingati Natal, kelahiran Tuhan Yesus Juru Selamat. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia membawa perdamaian di dunia, perdamaian di antara Tuhan Allah dengan semua manusia yang berkenan kepadaNya, dalam arti mereka yang bertobat dan percaya kepadaNya, termasuk kita jema-atNya saat ini.

Bagi kita yang telah memiliki perdamaian yang dikarunikan Tuhan Allah karena kasihNya melalui kedatangan dan karya Tuhan Yesus Juru Selamat tersebut, kita dinasehati dan diingatkan oleh rasul Paulus seperti yang telah disampaikan kepada jemaat Roma dalam Roma 12: 19 : “Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”,

Tuhan memberkati kita sejemaat. Amin.

[PR]