GEMBALA MENYAPA, Senin. 05 September 2022
Bacaan : Yohanes 5:1-9
MAUKAH ENGKAU SEMBUH?
Firnan Tuhan memberitakan "Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau sembuh?" (Yoh. 5:6)
Kabar dari Betesda
Orang tersebut "telah lama dalam keadaan itu". Keadaan apa? Sudah tiga puluh delapan tahun ia sakit, tidak ada yang mau menolong, hingga ia kehilangan semua peluang untuk sembuh (ay. 5, 7). Derita dan kekecewaan berkepanjangan membuatnya hancur, putus asa. Kepada Tuhan, ia tuturkan kemalangannya, namun tidak sepatah pun ia menyatakan harapan (ay. 7). Kenapa? Ia merasa, kesembuhan hanya ada bagi orang lain, bukan untuknya. Di hatinya, harapan telah padam, dan ia takut berharap. Baginya, harapan hanya melukai hati.
Kepada orang remuk yang kehilangan harapan dan takut berharap itulah, Tuhan bertanya, "Maukah engkau sembuh?" Rupanya, Tuhan tidak sekadar bertanya apakah pria itu mau (tidak menolak) sembuh, tetapi apakah ia mau mengingini kesembuhan, apakah ia mau berharap menjadi baik. Tak sekadar menawarkan kesembuhan, tetapi menguji apakah dia masih memiliki semangat untuk sembuh, harapan untuk menjadi baik kembali. Dengan cara-Nya, Tuhan bermaksud mengusik hati pria itu agar api harapan kembali menyala.
Kepada mereka yang remuk, yang merasa tak berpeluang lepas dari petaka, merasa terkucil dari yang baik, kehilangan harapan, bahkan takut berharap, peristiwa Betesda mengabarkan bahwa Tuhan selalu datang bertanya, "Maukah engkau sembuh?" Selalu datang sinar harapan. Maka, berharap menjadi baik adalah hal yang masuk akal, bukan hal menakutkan apalagi melukai. "Maukah engkau sembuh?" adalah ajakan untuk berani mengharapkan yang baik. Dan, Tuhan sendirilah yang mengajak, bukan pihak lain. Adakah ajakan Tuhan itu punya arti dalam hidup saudara?
Tuhan memBerkati. Amin.
[BR]