Listen

Description

Gembala Menyapa

18 Juli 2022

MENGEMBANGKAN BUDAYA APRESIATIF

Roma 12:10

Ada suatu kebiasaan yang paling di kenang dari kehidupan Presiden pertama RI Ir, Soekarno, yaitu suka memberi pujian kepada lawan bicaranya. Presiden Soekarno selalu bisa menemukan sesuatu yang baru  atau minimal hal menarik dari orang yang ia ajak bicara. Kebiasaan positif ini membuat beliau cepat di terima di dalam pergaulan internasional. banyak orang menaruh hormat atau apresiasi merupakan salah satu teknik yang paling efektif untuk membangun komunikasi yang berhasil.

Pengertian “apresiatif” disini mencangkup sikap menunjukan penghargaan, pujian, serta komentar positif. Sejak kita membuka mata dan bangun di pagi hari hingga menutup mata di malam hari, sebenarnya ada banyak orang yang berjasa di sekeliling kita. Mulai dari istri yang mempersiapkan sarapan dan segala perlengkapan suami serta anak – anak sebelum berangkat kerja dan pergi ke sekolah, petugas kebersihan di kantor, hingga tim pelayanan di gereja, adalah sedikit contoh orang yang jasanya tidak bisa kita balas  dengan uang atau tenaga kita. Namun dengan seuntai senyuman manis di bibir, sepotong ucapan terima kasih, serta sedikit pujian atas penampilan mereka hari itu, kita bisa menyatakan rasa hormat dengan penghargaan kepada mereka.

Ada paradigma yang salah selama ini dari kebanyakan orang, yaitu mereka menunggu sampai terjadi hal-hal besar yang spektakuler dulu baru memberi pujian kepada orang lain. Padahal sebenarnya yang ada begitu banyak hal-hal “kecil” di sekeliling kita yang layak beroleh pujian atau apresiasi.

Roma 12:10 berkata “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”. Kita bisa belajar bahwa sikap saling mendahului dalam memberi hormat ternyata merupakan salah satu perwujudan dari kasih. Kemampuan untuk memberi hormat ternyata merupakan salah satu perwujudan dari kasih. Kemampuan untuk memberi rasa hormat kepada orang lain adalah sesuatu yang di pelajari, jadi bukan serta merta ada di dalam diri seseorang. Umat Tuhan harus belajar untuk berlomba untuk memberi hormat satu dengan yang lain. Dengan demikian tidak ada lagi sungut-sungut, yang ada hanyalah sekumpulan  orang yang saling menaruh hormat satu sama lain. Jika kebiasaan ini sudah menjadi budaya, maka tidak mustahil bahwa apa yang tertulis di di dalam Mazmur 133:1 akan tergenapi, yaitu saat kita hidup bersama dengan rukun makan Tuhan berkenan dan Ia pun akan memerintahkan berkatNya turun atas kita.