Listen

Description

Gembala Menyapa

11 Oktober 2022

MEWUJUDKAN KELUARGA SEBAGAI GARAM & TERANG DUNIA

MATIUS 5:13-16

Keluarga adalah lembaga sosial pertama yang Tuhan ciptakan bagi manusia. Sekalipun merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat, tetapi keluarga punya peran yang sangat besar dan penting dalam kehidupan yang lebih luas. 

Sebuah Filsafat Cina mengatakan : 

Apabila ada harmoni di dalam rumah, maka akan ada ketenangan di dalam masyarakat.

Apabila ada ketenangan di dalam masyarakat, maka ada ketentraman di dalam negara.

Apabila ada ketentraman di dalam negara, maka akan ada kedamaian di dalam dunia.

Keluarga Kristen dipanggil berdampak positif dan menjadi berkat bagi dunia!

Tuhan Yesus memberi wejangan bagi para pengikutnya melalui kotbah di bukit, bagaimana mereka harus hidup di dunia. Setiap orang percaya dipanggil berperan sebagai Garam dan Terang, dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu di dalam keluarga, bagi masyarakat disekitarnya, dan yang lebih luas lagi bagi dunia. Fungsi garam adalah memberi rasa sedap pada makanan dan mengawetkan agar tidak cepat busuk. Kita dipanggil untuk larut seperti garam dalam lingkungan sekitar kita dan membangun orang lain. Lilin dengan sinarnya yang kecil baru kelihatan terangnya di tengah kegelapan. Demikian juga keluarga Kristen dipanggil berperan aktif dalam menyatakan kasih Allah. Kasih yang dikehendaki Allah dari umat-Nya adalah kasih yang nyata dan terbuka menjangkau sesama, bahkan juga musuh mereka. Kasih seperti itulah yang telah Allah kerjakan dalam diri Yesus Kristus dan harus dikerjakan oleh umat-Nya di dunia ini. Memberi ‘rasa sedap’ kepada lingkungan disekitarnya dan ‘terang’ di dalam kegelapan persoalan hidup yang dihadapi orang-orang yang diperjumpakan Tuhan dengan kita.

Panggilan menjadi berkat bagi banyak bangsa pada awalnya diberikan kepada bangsa Israel. Tetapi pada kenyataannya Tuhan mengecam bangsa Israel, umat pilihan-Nya, yang diumpamakan dengan kebun anggur (Yesaya 5 : 1-7). Mereka dikasihi dan dirawat begitu rupa, diharapkan supaya menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkan adalah buah anggur yang asam. Dinantikan-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinantikan-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. Bangsa Israel tidak menjadi berkat bagi banyak bangsa seperti yang diharapkan Tuhan. 

Kita bisa belajar dari teladan Paulus, yang dalam segala hal (bahkan ketika ia di dalam penjara sekalipun) ia mau agar Kristus dimuliakan di dalam hidupnya, bahkan dalam kematiannya (Filipi 1 : 20). Tekadnya kalau ia harus hidup, itu berarti ia harus bekerja memberi buah. Bukan buah yang asam tapi buah-buah perbuatan baik yang membangun banyak orang.

Bagaimana dengan kehidupan keluarga kita? Menjadi Garam dan Terang yang tidak bersuara, namun diam-diam memberi pengaruh yang besar secara aktif dan positif di lingkungan kita. Misal melalui terlibat dalam kegiatan di RT/RW, di kantor, di pemerintahan, dan sebagainya. Kiranya Tuhan Yesus, Sang Terang Dunia itu memampukan kita memancarkan kasih-Nya, sehingga orang-orang di sekitar kita melihat dan merasakan kasih-Nya yang memberkati banyak orang, dan mereka memuliakan Bapa di Sorga.