Menjadi ngeri apabila menyadari bahwa tidak sedikit dari penduduk kota seolah sudah mewajarkan hal-hal buruk. Mewajarkan macet, mewajarkan polusi, membuang sampah sembarangan, bakar sampah di depan bayi merah, semuanya dianggap "tidak apa-apa". Entah memang demikian, atau mungkin lebih kepada "tidak tahu hal apa yang bisa dilakukan". Setidaknya dengan kita masih punya lisan untuk berbicara, pikiran untuk bertanya, harapan untuk diwujudkan. Setidaknya kita masih punya, ruang-ruang pikir untuk diselami lebih dalam. Karena bicara kota adalah bicara kita. Mari kita hidupkan dialektika kita, dan menjauhkan kota dari kematian jiwa-jiwa penduduknya. *Dikutip dari @nekropolis_