Listen

Description

✳️✳️✳️Dari tafsir Ibnu Katsir dari Habib Sauqi Al Haddad penjelasan tentang Surat An-Najm (Bintang), surat ini diturunkan di Mekkah dengan 62 ayat.

Surat ini dibuka dengan sumpah Allah menggunakan makhluknya, yaitu bintang tatkala terbenam, menurut Ibn Abbas, hal ini diartikan pula sebagai ketika setan dilempar dengan bola api. Sebagai informasi bahwa Allah boleh bersumpah dengan menggunakan makhluknya dan manusia hanya boleh bersumpah dengan menggunakan nama Allah.

Sumpah tersebut untuk menegaskan kepada sahabat Nabi, bahwa nabi Muhammad tidak sesat dan tidak berkata menurut hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah yang disampaikan oleh Jibril sebagai makhluk yang sangat kuat dengan dipenuhi kecerdasan. Jibril menampilkan wujud aslinya yang berada di ufuk yang tinggi. Abdullah bin Mas’ud menyampaikan bahwa Rasul melihat bentuk Jibril dua kali yang mana Rasulullah melihat Jibril memiliki 60 sayap.

Rasulullah dan Jibril berhadapan sangat dekat seperti dua busur panah dan begitulah Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada Rasulullah. Hati Rasulullah tidak mendustikan apa yang beliau lihat. Lantas ayat surat ini bertanya pada para sahabat, “apakah kamu akan membantah Rasulullah atas apa yang dilihatnya?”. Rasulullah pun juga bertemu Jibril di waktu lain, yaitu di Sidratil Muntaha yang mana di sisinya ada surga tempat tinggal orang-orang bertakwa, ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputi (belum ada penjelasan terkait sesuatu tersebut). Penglihatan Rasulullah tidak berpaling dan tidak melampaui batas dan itulah sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang paling besar.

Ayat surat ini juga menanyakan tentang Al Lata dan Al ‘Uzza dan Manah yang ketiga (berhala yang disembah oleh orang-orang kafir zaman Jahiliyyah), yang mana dalam budayanya akan memelihara anak laki-laki dan membunuh anak perempuannya sebagai anggapan itu anak Tuhan, dan ayat tersebut menyindirnya dengan pembagian yang tidak adil, karena sesungguhnya semuanyalah milik Tuhan. Ketiga nama tersebut adalah hanya nama-nama yang diberikan oleh kaum itu sendiri dan keluar dari hawa nafsu dan sesungguhnya Allah telah memberikah petunjuk kepada mereka, namun mereka ingkar.

Tentang Al Lata dan Al’Uzza serta Manah, dalam penjelasan tafsir disebutkan bahwa Al Lata dan Al ‘Uzza adalah nama-nama nenek moyang kaum tersebut yang terkenal akan kesholehannya, sehingga kaum-kaum di masa sepeninggal keduanya berkeinginan mengingatnya dan mengambil contoh akannya. Saat itu setan membujuk kaum itu untuk mewujudkan Lata dan ‘Uzza menjadi patung-patung yang menyerupainya agar mendoakannya lebih mantap. Namun, lama kelamaan, sepeninggal kaum-kaum tersebut, setan menggoda anak keturunannya untuk tidak mendoakannya namun menyembahnya sebagai Tuhan yang memberkahi. Sebuah penyelewengan dan pembangkangan sehingga menjadikannya kafir.

Allah memiliki semuanya, kehidupan dunia dan akhirat, termasuk banyaknya malaikat yang Allah berhak menjadikannya berguna sebagai pertolongan manusia. Dan orang-orang tersebut, orang-orang yang tidak percaya akan datangnya akhirat, menamakan para malaikat dengan nama perempuan, seperti Manah sebagai anak Lata dan ‘Uzza. Dan itu adalah prasangka saja yang salah. Kita diperintahkan untuk berpaling dari pengaruh orang-orang tersebut yang hanya menghendaki kehidupan dunia saja. Allah akan memberikan balasan amal yan gsesuai perbuatannya, termasuk balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, yaitu menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali hanya teringat sepintas lalu atau kesalahan-kesalahan kecil, dan Allah Maha Pengampun.

Allah menceritakan Allah mengetahi keadaan manusia ketika sejak awalnya dari tanah sampai janin di perut ibunya, sehingga Allah melarang manusia untuk menganggap diri kita suci, karena Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Allah memperingkatkan kita untuk memperhatikan orang-orang yang berpaling dari kehidupan akhirat, yang sangat pelit dalam bersedekah, lanjutkan https://www.kompasiana.com/cakusma/tafsir-sura