#SeatapMovementPresent
.
Menjadi muslim itu karakter dasarnya adalah amanah. Tetapi ternyata ini tidak mudah. Terlebih kala seseorang menekuni dunia politik. Mempertahankan sikap amanah seakan memastikan diri pada kerugian. Akibatnya tidak sedikit orang yang ringan mengingkari janji, lain hari ini lain lagi esok. Padahal, tidak akan ada keberuntungan tanpa sikap amanah yang dikedepankan.
Secara bahasa amanah berasal dari kata amina yang bermakna tidak meniru, terpercaya, jujur, atau titipan.
Di Indonesia, kata amanah identik dengan kesetiaan dan komitmen berdiri tegak di atas kebenaran, janji yang disampaikan, dan pembelaan terhadap kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan makna amanah dalam Al-Qur’an yang menegaskan larangan umat Islam berbuat khianat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal [8]:27). Ayat di atas secara tegas memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk menjadi pribadi yang komitmen dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, bersikap dapat dipercaya terhadap kepercayaan yang diberikan. Jangan sampai karena suatu godaan atau pikiran menyimpang, lantas kemudian berkhianat. Dan, tidak ada pengkhianatan dilakukan oleh seseorang melainkan dia
sadar telah dan sedang menjalankan pengkhianatan.