Dewasa ini dapat kita cermati melalui telepon genggam kita masing-masing betapa peristiwa diatas banyak sekali terjadi. Di media sosial hari ini, banyak orang berkomentar menasihati orang lain tentang kebaikan, sedangkan pada komentar yang lain mereka mencaci dan memaki dengan begitu leluasanya. Seolah sudah lupa pernah menulis komentar berisi nasihat atas kebaikan.
Pada dasarnya kita sudah akrab dengan peristiwa real semacam itu dalam hidup kita. Tetapi dengan adanya amplifier bernama media sosial, jumlah peristiwa semacam itu menjadi begitu banyak. Masih bagus bila setidaknya sadar dengan apa yang diperbuat. Tetapi seringnya sama sekali tidak sadar. Ketika menjadi malaikat ya hanya sadarnya menjadi malaikat. Ketika mencaci-maki, menjadi setan, ya ingatnya menjadi setan saja. Tidak ingat bahwa diri adalah manusia, punya dua potensi yang harus selalu di kontrol dalam dirinya.