Listen

Description

Buku "Decolonize Conservation: Global Voices for Indigenous Self-determination, Land, and a World in Common," yang diedit oleh Ashley Dawson, Fiore Longo, dan Survival International, menyajikan kritik mendalam terhadap model konservasi arus utama. Para penulis dan kontributor dalam buku ini berpendapat bahwa konservasi, dalam bentuknya yang dominan saat ini, seringkali berfungsi sebagai alat perampasan tanah, kekerasan, dan ketidakadilan terhadap masyarakat adat dan lingkungan, alih-alih menjadi solusi yang efektif untuk krisis ekologi global. Mereka menyoroti bagaimana konsep "konservasi benteng" berakar kuat dalam sejarah kolonial, memisahkan manusia dari alam dan menciptakan kawasan lindung yang dimiliterisasi di atas tanah adat.

Buku ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa praktik konservasi benteng ini terus berlanjut, didukung oleh organisasi konservasi besar dan donor internasional, yang menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia yang parah terhadap masyarakat adat. Selain itu, buku ini membongkar "solusi palsu" terhadap krisis iklim, seperti "Solusi Berbasis Alam" dan finansialisasi alam, yang dianggap sebagai pengalih perhatian dari akar penyebab kerusakan lingkungan yang sebenarnya: eksploitasi sumber daya yang didorong oleh keuntungan dan konsumsi berlebihan di negara-negara Global North. Solusi-solusi palsu ini seringkali melibatkan perampasan tanah masyarakat adat dan lokal, serta memungkinkan industri pencemar untuk terus beroperasi tanpa perubahan mendasar.

Sebagai alternatif, "Decolonize Conservation" mengadvokasi pendekatan konservasi yang berpusat pada masyarakat adat dan hak-hak mereka, menekankan bahwa pengakuan hak-hak adat adalah prasyarat mutlak untuk konservasi keanekaragaman hayati dan aksi iklim yang efektif. Pengetahuan tradisional dan praktik pengelolaan lahan masyarakat adat, yang telah terbukti berkelanjutan selama berabad-abad, menawarkan model yang jauh lebih efektif dan adil. Buku ini menyerukan transformasi fundamental dalam tata kelola lingkungan global, menuju "demokrasi ekologis radikal" di mana masyarakat adat dan komunitas lokal menjadi pemegang kekuasaan dan keputusan, membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua.