Pendidikan tinggi sering kali mendefinisikan keberhasilan mahasiswa melalui metrik yang dapat diukur, seperti nilai dan tingkat kelulusan. Namun, fokus yang sempit ini gagal untuk menangkap inti dari pengalaman perguruan tinggi: sejauh mana mahasiswa terlibat secara intelektual, sosial, dan emosional. Psikologi positif menawarkan perspektif alternatif, bergeser dari model defisit yang berfokus pada masalah, menuju model yang menekankan pengembangan kekuatan dan potensi manusia. Dalam esai ini, akan dibahas bagaimana prinsip-prinsip psikologi positif dapat menginspirasi dan mengubah cara perguruan tinggi berinteraksi dengan mahasiswa dan staf, menciptakan lingkungan yang tidak hanya mempertahankan, tetapi juga membantu mereka berkembang.
Psikologi positif di perguruan tinggi bukan sekadar tren, melainkan sebuah kerangka kerja transformasional. Dengan menggeser fokus dari perbaikan masalah ke pengembangan kekuatan, institusi dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif, bermakna, dan relevan bagi mahasiswa. Ini adalah perubahan yang mendasar, dan pada akhirnya, akan menghasilkan individu yang lebih bahagia, lebih produktif, dan lebih siap untuk menghadapi dunia.