Tahap ideasi dalam Design Thinking bertujuan untuk menghasilkan solusi inovatif melalui eksplorasi ide secara luas, yang dapat dimulai dengan metode berbasis volume seperti Brainstorming dan 6-3-5 Brainwriting. Brainstormingmengandalkan energi kolektif tim untuk memicu ide-ide spontan melalui pertanyaan "How Might We", menciptakan efek bola salju di mana satu pemikiran memicu inspirasi lainnya. Di sisi lain, 6-3-5 Brainwriting menawarkan pendekatan yang lebih terstruktur dan inklusif, memastikan setiap anggota tim—terlepas dari kepribadian mereka—memiliki ruang yang setara untuk menuliskan dan mengembangkan ide secara tertulis. Kedua metode ini sangat krusial dalam membangun fondasi kuantitas ide yang masif sebelum tim melangkah pada tahap kurasi yang lebih mendalam.
Selain pengumpulan ide secara masif, inovasi yang bermakna sering kali dipicu melalui restrukturisasi konsep dan perbandingan konteks menggunakan metode SCAMPER dan Analogies. SCAMPER memberikan panduan sistematis bagi tim untuk membedah solusi yang sudah ada melalui tujuh filter perubahan—seperti mengganti, menggabungkan, atau menghilangkan elemen tertentu—guna menemukan peluang improvisasi yang konkret. Sementara itu, metode Analogiesmenantang tim untuk keluar dari batasan industri mereka sendiri dengan meminjam keberhasilan solusi dari bidang yang sama sekali berbeda. Dengan memanfaatkan kedua teknik ini, tim mampu menggali potensi perubahan yang revolusioner dan menghindari jebakan pemikiran yang hanya bersifat permukaan atau pengulangan dari apa yang sudah ada.
Sebagai pelengkap untuk meruntuhkan hambatan mental dan rasa takut akan penilaian, metode Worst Possible Idea hadir sebagai katalisator kreativitas yang unik dengan cara meminta tim mengusulkan solusi paling buruk atau bahkan konyol. Teknik ini tidak hanya berfungsi sebagai pencair suasana (ice-breaking), tetapi juga sering kali menyimpan benih solusi brilian ketika logika dari ide buruk tersebut dibalikkan menjadi sesuatu yang berguna. Secara keseluruhan, integrasi kelima metode ini—mulai dari yang bersifat spontan, terstruktur, hingga kontradiktif—merupakan strategi komprehensif bagi seorang fasilitator untuk memastikan setiap sudut pandang telah dijelajahi. Dengan pendekatan yang beragam ini, tim akan memiliki kesiapan yang jauh lebih matang untuk melangkah ke tahap pembuatan purwarupa (prototyping) dengan konsep yang kuat dan orisinal.