Bagi Hening Parlan, ziarah hijau adalah sebuah perjalanan melampaui batas-barang angka dan data statistik. Perjalanan ini bermula dari lumpur konflik agraria dan jelaga hutan yang terbakar di bawah bendera WALHI, sebelum akhirnya menemukan muaranya di pelataran rumah ibadah. Ini bukan sekadar perpindahan ruang gerak, melainkan sebuah eskalasi kesadaran: bahwa membela alam bukan hanya urusan teknis pengelolaan sumber daya, melainkan sebuah ziarah batin untuk menemukan kembali hakikat manusia sebagai penjaga kehidupan. Di titik ini, aktivisme lingkungan berhenti menjadi sekadar protes politik dan mulai menjadi sebuah laku spiritual yang mendalam.
Dalam spektrum ini, lahirlah apa yang disebut sebagai Eco-Jihad. Istilah "jihad" yang sering kali disalahpahami sebagai amuk atau pedang, dikembalikan maknanya oleh Hening ke akar yang paling murni: sebuah perjuangan moral yang tak kenal lelah. Eco-Jihad adalah perlawanan terhadap nafsu ekstraktif yang rakus dan pembangunan yang menyingkirkan martabat manusia. Ia adalah jihad melawan ketidakpedulian, sebuah ikhtiar spiritual untuk memastikan bahwa setiap sujud di atas sajadah selaras dengan perlindungan terhadap bumi yang kita pijak. Keimanan, dalam konteks ini, menjadi energi gerak yang menolak kerusakan (fasad) dan memilih jalan keberlanjutan.
Pada akhirnya, gerakan lintas agama ini menunjukkan bahwa krisis ekologis adalah krisis peradaban yang membutuhkan daya sosial yang dahsyat. Kita belajar dari tragedi, seperti Tsunami Aceh, bahwa di saat krisis paling kelam, agama hadir sebagai sumber solidaritas yang tak kunjung kering. Ziarah Hijau dan Eco-Jihad mengingatkan kita bahwa merawat bumi adalah perintah iman yang tak bisa ditawar. Tanpa keberanian untuk mengintegrasikan nilai ekologis ke dalam denyut nadi keagamaan, kita hanya akan mewariskan dunia yang retak kepada generasi mendatang—sebuah pengkhianatan terhadap amanah Tuhan yang menitipkan alam ini sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.