Elon Musk di Davos 2026 itu ibarat magnet yang kutubnya baru saja dibalik. Dulu dia yang paling keras mencerca World Economic Forum sebagai kumpulan elit yang tak punya mandat, kini dia justru duduk di pusat gravitasi panggung itu. Di depan Larry Fink dan para petinggi dunia, dia bukan lagi sekadar pengusaha, tapi sudah menjadi pemain geopolitik yang lincah. Dia melontarkan lelucon satir tentang "Board of Piece"—sebuah plesetan cerdas sekaligus getir tentang bagaimana wilayah dunia seperti Greenland atau Venezuela bisa saja dibagi-bagi seperti potongan kue. Di Davos, Musk sedang menunjukkan bahwa sekarang dialah sang dirigen, dan dunia hanya tinggal menunggu nada apa yang akan ia mainkan selanjutnya.
Bagi Musk, masa depan bukan hanya soal angka di bursa saham, tapi soal menjaga sebuah "lilin kecil" di tengah kegelapan semesta yang luas: kesadaran manusia. Itulah metafora yang ia bawa untuk menjelaskan mengapa ia begitu terobsesi dengan AI yang super pintar dan robot humanoid Optimus. Baginya, jika manusia tidak segera melompat ke level teknologi yang lebih tinggi—termasuk membangun pusat data bertenaga surya di luar angkasa—maka lilin kesadaran itu bisa padam oleh keterbatasan energi atau birokrasi yang usang. Ia memuji efisiensi China dan menyentil proteksionisme Amerika, semuanya demi satu ambisi: memastikan cahaya lilin itu terus menyala, meski harus dibawa hingga ke Mars.
Namun, di balik optimisme tentang "kelimpahan berkelanjutan," Davos 2026 menyisakan tanda tanya besar tentang nasib demokrasi. Saat seorang miliarder memiliki pengaruh yang lebih besar dari banyak kepala negara lewat departemen DOGE dan ribuan satelit, batas antara sektor publik dan privat kian hilang menjadi abu-abu. Publik pun bertanya: apakah kita sedang menuju cahaya yang lebih terang, atau justru sedang menyerahkan lilin kesadaran kita ke tangan segelintir orang yang tak pernah dipilih melalui kotak suara? Musk menutup sesinya dengan pesan untuk tetap menjadi seorang optimis, namun dalam urusan kekuasaan, sejarah seringkali mengajarkan bahwa terlalu optimis tanpa akuntabilitas bisa berakhir pada kegelapan yang tak terduga.