Ramadhan tahun ini masih menyisakan luka mandalam, saat al quds kembali diserang, penduduk palestina kembali dihadapakan dengan kondisi yang tak manusiawi. Lantas banyak beredar quotes, video pendek dan semacamnya yang mengisyaratkan panggilan bagi salahuddin al ayyubi, salahuddin yang akan membebaskan al aqsa ada dimana? (dara)
Bicara tentang kemenangan dimasa lalu saat perebutan kembali Al aqsa, bukan bicara tentang satu orang tapi bicara tentang keterlibatan berbagai pihak. Yup tepatnya kemenangan salahadduin dan para pasukannya. Begitu kritik yang pernah disampaikan Dr Majis Irsan Al Kilani terkait sejarah masa perang salib. Kala itu, yahudi merebut al aqsa, saat peristiwa perang salib sekitar tahun 1099 M, lalu berpuluh tahun kemudian, dalam kurun 89 thun barulah al aqsa berhasil direbut kembali atas kepemimpinan salahuddin al ayyubi merangkul pasukan dari berbagai wilayah islam.
Ada pertanyaan menarik, kenapa yahudi sangat berambisi menguasai al aqsa? Ini disebabkan oleh faktor utama terkait dg misi keagamaan yahudi. Dulu, paus urbanus yang merupakan wakil tuhan bagi orang yahudi pernah menyampaikan kepada mereka bahwa siapa saja yang bisa merebut tanah suci (al aqsa), merekalah yang dijamin masuk surge. Karena banyaknya kaum yahudi yang ingin dapat pengampunan lantas mereka berbondong-bondong melakukan serangan, saat penyerangan pertama mereka kalah, namun penyerangan kedua mereka berhasil. Disamping itu faktor perdangan juga jadi alasan kedua perebutan al aqsa.
Lalu ada pertanyaan yg lbh menarik, kenapa butuh waktu 89 tahun bagi islam untuk kembali membeskan al aqsa? Padahal negara yang ada disekitar palestina adalah negara-negara muslim? Aneh ga sih? Iya, ternyata sumber masalahnya adalah masalah internal ummat muslim dan ini juga tetap menjadi faktor penghambat sampai saat ini. Apa masalah itu? Tidak adanya persatuan antar ummat muslim, kala itu ada banyak pertentangan antar mazhab, kelalain para ulama dalam menyatukan ummat, bahkan kepemimpinan juga dipegang oleh sultan yang lemah yg hanya dikontrol dari belakang. Mazhab jadi batu lombatan karir, bahkan jadi sumber pertengkaran yang tiadakan habisnya, masjid jadi tempat berantem alih2 menuntut ilmu, bidang ilmu jadi kurnag diminati, ashabiyah melestraikan persaingn. Terjadi kerusakan pemikiran, politik, dan ekonomi yang kacay. Jadi masalahnya bukan musuh yang hebat, tapi kita saja yang lalai.
Butuh kesepakatan antar semua negara yang mayoritasnya muslim untuk mengikat tali persatuan, jika sudah begitu akan ada banyak salahuddin-salahuddin zaman sekarang yang akan jadi pasukan pembebas al aqsa, pembebasa tanah suci.
Kita butuh teman, untuk memperbaiki diri, memperbaiki masalah internal ummat islam, karenanya rangkul mereka yang mampu kau raih untuk menjadi bagian kecil yang akan menjadi kelompok besar kedepannya, semangat, kita tak boleh menyerah.